pitung

Dia yang pasti bukan  Dicky Zulkarnaen, aktor kawakan, suami Mieke Wijaya yang punya anak cantik Nia Zulkarnaen. Walaupun Dicky memerankan dengan apik  Si Pitung, tokoh utama dalam  Film Pitung Banteng Betawi (rilis tahun 1970) dengan gurunya H. Naipin (diperankan Panji Anom), tetapi bisa dipastikan asal usul Pitung sendiri masih menjadi polemik.  Ada yang bilang, Pitung adalah khayalan, ada pula yang mengisahkan, Pitung adalah tokoh nyata pembela rakyat Betawi dari hisapan keji para tuan tanah.

Polemik Pitung itu diceritakan dengan menarik oleh Abdul Chaer, ahli bahasa yang menekuni seluk beluk dunia kebetawian dalam buku terbarunya: “Mencari Pitung: Kontroversi  Jago-Jago Betawi” (Masup Jakarta, November 2020). Inilah buah karya Putera Betawi di ulang tahunnya ke-80 yang menarik menjadi bacaan akhir pekan.

Babe Chaer, begitu ia disapa, menelurkan buku setebal  137 halaman ini sebagai sebuah catatan ringan perihal Pitung. Bukan karya ilmiah,  namun ini adalah catatan-catatan argumentatif yang disajikan secara runut, tentang kondisi Batavia pada masa kolonial Belanda hingga munculnya tokoh Pitung.  Setidaknya, dalam buku ini menceritakan, kisah Si Pitung, tidak bisa dilepaskan dari dua hal, yaitu penjajahan kolonial Belanda dan dunia para jagoan di tanah Betawi dan sekitarnya (pendahuluan Hal.3).

Dua hal itulah yang kemudian menimbulkan kontroversi  Si  Pitung. Apalagi, catatan tertulis mengenai keberadaannya, terbilang langka. Kalaupun ada, berita-berita koran Belanda menuliskannya sebagai penjahat yang harus dibasmi. Sudah barang tentu, dalam kacamata penjajah, siapapun yang mengganggu kepentingan mereka untuk terus menguasai, dianggap sebagai  musuh yang harus dibasmi.

Hal kedua,munculnya jago-jago Betawi sebagai akibat dari kebijakan politik Belanda yang memperjualbelikan tanah jajahan ini kepada para pemilik modal. Menarik di simak, buku ini mengutip siapa-siapa saja Tuan tanah pemilik tanah di Batavia, Tangerang dan Bogor di tahun 1879 berdasarkan Regering Almanak 1881 (lampiran hal 119). Kepemilikan tanah ini yang kemudian membuat para penduduk pribumi menderita. Pasalnya, setiap siapa saja yang tinggal dan berusaha di atas tanah kepemilikan mereka, diwajibkan membayar upeti.

Untuk memuluskan pajak upeti itulah kemudian muncul centeng dan mandor penjaga Tanah. Cilakanya, mandor maupun centeng yang ada, merupakan jago-jago silat yang kejam terhadap penduduk asli. Dari sinilah kemudian muncul para jago-jago Betawi dengan preferensinya masing-masing.

Secara ciamik, Babeh Chaer membagi  kelompok jago-jago itu dalam tiga kategori besar (Hal 3): Pertama, para jagoan yang berhati mulia dan taat beragama. Tokohnya antara lain, Rama alias Ali Basah yang ikut dalam Perlawanan Tambun 1869; Idris dan Arpan yang bertempur dalam perlawanan Ciomas 1886; dan Entong Gendut yang turut dalam perlawanan Condet 1916. Secara ringkas, kisah-kisah perlawanan ini diceritakan pada bab 4 (hal 47).

Kelompok kedua adalah para jago yang bekerja pada tuan tanah. Mereka inilah yang diberikan kuasa oleh para tuan tanah untuk menekan pribumi yang tak mau mengikuti aturan pemerasan dalam setoran. Sekalinya tidak setor, bisa diusir atau bahkan dibunuh. Ketidakadilan yang dilanggengkan dengan penindasan. Para jago kelompok kedua ini yang kemudian menimbulkan perlawanan-perlawanan kaum pribumi terhadap tuan tanah.

Kelompok ketiga adalah para jago yang tidak peduli dengan siapa dia bekerja. Boleh dibilang, mereka adalah penjahat murni tanpa melihat siapa yang ditindas. Bisa pribumi, bisa pula tuan tanah. Asalkan punya harta berlimpah, semua disikat tanpa ampun. Nama-nama seperti Sarkam, Entong Tolo dan si Gantang, merupakan momok yangmenakutkan bagi siapa saja yang hidup di  Tanah Betawi pada masa itu. Cerita pada ‘bandit’ ini juga dapat disimak pada bab 5; Mereka yang sesat (hal  63).

Membaca buku ini tak perlu mengernyitkan dahi. Bahasa yang lugas dan cenderung bertutur, seperti membaca kisah masa silam dengan aneka data yang jelas sumber kutipannya. Meski, sejak awal dalam catatan pendahuluan, Babe Chaer sudah mewanti-wanti, buku ini bukanlah catatan sejarah secara ilmiah, tetapi sumber-sumber yang dicomotnya, tersaji di halaman daftar pustaka (hal 107-110).

Menariknya lagi, dalam lampiran-lampiran juga disajikan Rancak si Pitung, daftar pemilik tanah, sistem pemerintah pada masa kolonial hingga istilah-istilah yang lazim digunakan pada masa itu.

“…Kita akan mendapati informasi berharga karena caranya Bang Abdul Chaer sebagai orang dalam kebudayaan Betawi serta ahli linguistik memahami sosok si Pitung,” tulis Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dalam kata sambutannya untuk buku ini.

Jadi, siapa si Pitung? Sila baca buku ini.

(Selasa, 16 Rabiul Akhir 1442H)

Bangbul@betawipedia.com

By BangBul

betawipedia.com adalah situs informasi mengenai segala hal tentang Betawi. Mencakup aktivtas warga betawi, seni, budaya dan sejarah Betawi

2 thoughts on “Si Pitung, Siapa Dia?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.