Betawipedia.com- John Dunlop yang berkebangsaan Inggris, mungkin tak menyangka, penemuannya tentang teknologi angin pada ban di tahun 1888 membuat industri sepeda berkembang pesat. Hanya selang dua tahun, di tahun 1890, sepeda berteknologi ban angin itu sudah mendarat di Batavia alias Betawi atau sekarang disebut Jakarta.

Dalam buku, Jakarta Tempo Doeloe racikan Abdul Hakim (1989) disebutkan, bahwa zaman kolonial Belanda, sepeda dideteksi pertama kali di kawasan Batavia di tahun 1890. Kala itu, merek yang laris diperdagangkan adalah Rover.

Hanya orang-orang berpunya yang mampu memiliki sepeda ini. Kebanyakan mereka adalah para saudagar Tionghoa maupun Tuan Tanah Belanda. Maklum, banderolnya mencapai 500 gulden, atau setara dengan Rp 3.950.000 (kurs 13 Januari 2021).

Keberadaan sepeda di tanah kolonial sebagai alat transportasi ini, mulai menggantikan kereta kuda yang lazim digunakan. Sepeda sendiri disinyalir pertama kali di temukan oleh Comte Mede de Sivrac, orang Prancis, pada 1790 yang diklaim sebagai penemu alat transportasi bernama velocipede. Meski hal itu belum terkonfirmasi, namun karena bentuknya aneh (dengan ban besar di depan dan ban kecil di belakang) keberadaan sepeda belum banyak yang menyukai.

Seiring berjalannya waktu,tahun 1819 Baron Karls Drais von Sauerbronn, seorang berkebangsaan Prusia (Jerman), kemudian melakukan penyempurnaan. Sebagai kepala pengawas hutan, ia membutuhkan alat transportasi  yang efektif dan efisien. Pada awalnya, sepeda ciptaannya masih mengombinasikan antara bentuk velocipede dengan kereta kuda. Lantaran bentuknya yang dianggap menyerupai kereta kuda, masyarakat menamakannya dengan Dandy Horse.

Walau demikian, pada tahun itu ia mendaftarkan paten sepeda itu, sehingga ia orang yang pertama kali tercatat sebagai penemu sepeda modern.

Desain sepeda lantas terus mengalami penyempurnaan. Dua puluh tahun kemudian tepatnya tahun 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, menambahkan pedal khusus untuk sepeda. Perlu diketahui, awalnya sepeda memang belum dilengkapi dengan engkol pedal, tetapi untuk membuatnya laju masih dibantu dengan kaki, persis dengan otopet.

Dalam ensiklopedia Britannica.com, menuliskan, engkol pedal ini kemudian mendapat penyempurnaan dari Ernest Michaux pada 1855. Warga Prancis ini membuat pemberat engkol agar sepeda tetap stabil saat melaju.

Evolusi sepeda semakin sempurna hingga akhirnya masuk ke Batavia alias Tanah Betawi. Di era tahun 1900, Batavia memang sudah menjadi salah satu metropolitan.

Alm. Alwi Shahab, dalam bukunya “Batavia Kota Banjir” menuliskan, “Kala itu sepeda merupakan kendaraan yang paling banyak digunakan masyarakat, mulai dari murid, sekolah, pegawai, hingga pedagang,” tulisnya.

Saking dianggap barang mewah, pemilik sepeda kemudian dikenakan retribusi dengan bukti penyematan ‘peneng’ di bodi sepeda. Peneng itu sebagai bukti kepemilikan sepeda sah menurut hukum yang berlaku. Persis Buku kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) saat ini.

Keberadaan sepeda di Jakarta masih terus bersinar. Tersebut merek-merek sepeda pada masa itu yang meramaikan Tanah Betawi. Di antaranya adalah Humber,  Gazelle, Raleigh, Royal & Fill, Fongers, dan Hercules. Larisnya sepeda ini mendorong  bermunculannya toko-toko sepeda di Jakarta.

Toko Sepeda di Batavia

Adalah Pasar Senen, yang kala itu menjadi sentra belanja sejak zaman sebelum kemerdekaan. Alwi Sahab mencatat, setidaknya ada satu toko sepeda milik keturunan Tionghoa di seputar Pasar Senen, tepatnya di Gang Kenanga yaitu Toko Sepeda Tjong & Co. Belum di dapat catatan, siapa pemilik toko tersebut dan bagaimana nasibnya kemudian.

Selain itu, juga terdapat beberapa toko sepeda yang menjadi agen penjualan resmi merek tertentu. Misalnya seperti merek Hercules di pasarkan secara resmi oleh TV Mitchell & Co di Jalan Nusantara (diperkirakan di daerah Harmoni).

Ibarat madu, Pasar Senen kala itu memang menarik sejumlah pedagang. Tak terkecuali dengan sepeda. Maka, tak lama kemudian, berdirilah toko sepeda milik H Ma’ruf yang lokasinya disinyalir tak jauh dari toko Tjong & Co. Haji Ma’ruf merupakan saudagar pribumi yang juga memiliki sejumlah bisnis lain. Putranya, kemudian diserahi untuk membangun bioskop Garden Hall di Cikini, tepatnya di Taman Ismail Marzuki.

Sayangnya, lambat laun penggunaan sepeda mulai sirna digantikan alat transportasi bermotor. Orang-orang berpunya kemudian lebih merasa bergengsi menggunakan kendaraan bermotor.

Roda terus berputar, mode pun demikian. Kini memasuki tahun 2021, keberadaan sepeda kembali menggeliat. Aktivitas bersepeda sebenarnya sudah kembali menggejala dalam 5 tahun belakangan. Saking ramainya bersepeda, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian membuat kebijakan pengaturan lalu lintas bersepeda di Jakarta.

Melalui Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan juga Kepolisian Daerah Jakarta, dibuatlah aturan jam operasional jalur sepeda Sudirman-Thamrin pada pagi dan sore hari.

Pengaturan jalur sepeda dibagi, pada Senin-Jumat pagi hari pukul 06.00-08.00 WIB dan sore hari pukul 16.00-18.00 WIB. Untuk Sabtu pagi pukul 06.00-10.00 WIB dan sore pukul 16.00-19.00 WIB. Sedangkan pada Minggu pagi harinya disesuaikan dengan car free day, sedangkan sore hari pada pukul 16.00-19.00 WIB.

Namun demikian, peraturan ini seperti terlupakan. Datangnya pandemi Covid-19 yang dinyatakan resmi masuk Indonesia pada 2 Maret 2020, membuat aktivitas warga dibatasi dengan adanya penerapan Pembatasan Sosial Skala besar. Pun demikian, buat warga Jakarta, bersepeda tetap bisa dilakukan, asal mengindahkan protokol kesehatan.

 Foto:“Post-deliverer boys on bicycle of the Postoffice in Weltevreden, Batavia, 1900 – 1917 “ oleh W.F. Commerell (Fotograaf/photographer). Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen,

By BangBul

betawipedia.com adalah situs informasi mengenai segala hal tentang Betawi. Mencakup aktivtas warga betawi, seni, budaya dan sejarah Betawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.