pinangki

Oleh: Rizka S. Aji

Di Tanah Betawi, urusan potong ujung kulit kelamin lelaki alias sunat bukan sembarang potong. Dahulu kala, untuk menandakan si anak sudah beranjak dewasa, salahsatu cirinya adalah siap untuk disunat. Adalah Bengkong yang menjadi tukang ‘jagalnya’. Berbekal pisau, penjepit dari bahan bambu, anti septik dan tak ketinggalan serangkaian doa agar yang disunat tidak merasa sakit. Ada kepercayaan kalau tangan Bengkong memang jodoh maka anak yang disunat cepat sembuhnya. Bengkong yang baik harus memiliki doa-doa yang manjur agar anak menurut saat disunat dan tak mengeluarkan banyak darah.

Hajatan macam sunatan ini bagi kaum berada, terbilang mewah. Pengantin sunat (begitu disebut anak yang akan disunat) disiapkan aneka pesta. Setelah ujung kulit terlepas dari ‘badannya’, saat itulah si anak dianggap sudah memasuki babak baru kehidupan. Sebelumnya, Pengantin Sunat diarak-arak keliling kampung. Tujuannya, mengabarkan sekaligus memberi penghiburan bagi yang di sunat maupun masyarakat sekitar.

Sunatan sejatinya ajang yang membahagiakan berbagai pihak, yang disunat girang, orang tuanya pun riang, demikian juga dengan para tetamu undangan ikut berpesta pora. Bagi yang tak terundang pun gembira, pasalnya ada saja hiburan yang ditampilkan setelah sunatan berlangsung.

Bagi Bengkong atau mantri sunat, bisa dipastikan juga kecipratan berkah. Sedikitnya, membuat orang bahagia bakal diganjar pahala yang besar bukan? Soal upahnya, Itu relatif saja. Lantaran profesi Bengkong, biasanya punya kerja lain, mulai dari guru mengaji, petani, pegawai negeri hingga mantri.

Tetapi itu cerita dulu, sebab, perkara sunat akhir-akhir ini tidak lagi menjadi sesuatu yang terlihat istimewa. Meski dalam ajaran islam, sunat menjadi semacam keharusan, toh tak banyak lagi kita jumpai Pengantin Sunat diarak-arak keliling kampung. Selain tak ada lagi yang tertarik untuk menggelar hajatan, kalaupun ada, mau diarak di mana kalau harus berebutan dengan lajunya sepeda motor di jalan raya? Imbasnya profesi Bengkong mulai punah. Lambat laun ‘dukun sunat’ sudah berpindah ke tangan mantri atau dokter bedahm tanpa ritual atau doa-doa macam dulu.

Meski demikian akhir-akhir ini perkara sunat kembali ramai diperbincangkan di Tanah Betawi. Bahkan, skalanya boleh dikata menembus batas dari Sabang hingga Merauke, apa sebab?  Pasalnya, sunat yang ada, bukan sekadar memotong ujung kulit kemaluan, tetapi lebih dari itu.

Tercetus berita, majelis hakim pada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, menyunat hukuman seorang penegak hukum yang tertangkap  melakukan tindak pidana korupsi. Sunatan yang dilakukan memangkas tuntutan hukuman penjara 10 tahun menjadi 4 tahun. Tak ayal,  sunatan yang dilakukan majelis hakim itu membuat heboh seantero negeri.

Padahal, bila menilik laman https://pt-jakarta.go.id/situs29/020302_profile_hakim.php tak ada sedikitpun majelis hakim pembuat keputusan itu yang memiliki profesi sebagai Bengkong alias juru sunat. Sungguh, keahlian yang langka di era serba modern saat ini.

Tak seperti hajatan sunat masa silam. Kali ini, penonton maupun masyarakat tak merasakan kegembiraan. Sementara bagi yang disunat, tentu girang bukan kepalang. Persis seperti lirik yang dinyanyikan Benyamin Sueb, seniman Betawi saat mendendangkan lagu “Pengantin Sunat”.

….“Nyang sunat atinye girang
Biar kate ade nyang ilang
Udeh sunat jangan telanjang
Ntar digigit semut rangrang”

(Ampera, Dzulqadah, 1442 H)

Foto: Yahya Andi Saputra

By BangBul

betawipedia.com adalah situs informasi mengenai segala hal tentang Betawi. Mencakup aktivtas warga betawi, seni, budaya dan sejarah Betawi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.