Badan ramping, kacamata plus dan muka dihiasi janggut panjang berkelir dua: hitam dan putih. Di jari manis tangan kirinya, tersemat cincin akik. Hiasan gelang bebatuan juga melingkari kedua pergelangan tangannya. Persis tasbih, saya menakar, batu akik itu bukan barang baru kemarin, dari warna dan talinya, hiasan tangan ini terlihat ‘menua’.
Tetapi, bukan itu yang menarik dari sosok lelaki asli Betawi ini. Yahya Andi Saputra, begitu nama panjang kelahiran 1961 ini. Buat, warga Betawi yang doyan berorganisasi tentu sudah mengenalnya. Magister Susastra (kajian lisan) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini memang dikenal sebagai aktivis kesenian yang malang melintang di dunia sastra kebetawian.
--
Tidak seperti orangnya yang berbadan ramping, siang itu Sabtu (28/11) di Pantai Ancol, suaranya berkejaran dengan angin pantai yang berhembus kencang.
“Ayo Cing, bacain dah puisi dari Buku Cing Yahya. Kan ada nih yang soal laut,” cetus salahsatu jurnalis Betawi yang saat itu berkumpul difasilitasi Mpok Rika Lestari, Head od Corp. Communication PT Taman Impian Jaya Ancol.
Segera, suara ditimpali yang lain. Cing Yahya, memang hari itu menyodorkan buku karya terbarunya: “Kitab Puisi Yahya Andi Saputra: Cerita Dari Dapur”. Alhasil, mendapat permintaan itu, ia pun mencomot sebuah puisi untuk dibacakan.
“Aku tidak suka laut apalagi air asinnya.
Tetapi senandung angin laut memanggil
Berlompatan serbuk kangen ingin berangkulan
Menikmati sisa sinar emas matahari
Menyusun kenangan menjadi panduan
Menghidupkan esok penuh isi”