Kerak Telor: Sajian Elit yang Legit

Kerak Telor: Sajian Elit yang Legit

Kerak Telor panganan khas Betawi--

Dari pukul 1-2 siang, makan siang di ruang makan bersama. Selama makan, akan dimainkan musik gamelan. Komandan detasemen akan hadir untuk dapat segera memeriksa jika ada keluhan. Menu akan terdiri dari: nasi putih biasa, nasi goreng, ayam goreng, usus, gado-gado Betawi dengan emping dan ciumi-ciumi, telur pindang, telur asin dan kerak telor, daging sapi panggang dan semur, frikadel, dan setidaknya enam jenis sambal yang berbeda. Buah-buahan sesuai musim.”.

Artikel dalam koran “Deli Courant” terbitan 20 September 1927 itu menceritakan bagaimana menu yang tersaji bagi kaum interniran atau tahanan politik di Boven Digoel, Papua. Tampilan menu itu sejatinya hanyalah lelucon  penjajah terhadap  apa yang terjadi di sana, seolah-olah mereka memperlakukan penjajah dengan menu istimewa. 


Potongan menu Kerak Telor dalam surat kabar Deli Courant terbitan 20 September 1927

Salah satu menu istimewa itu adalah Kerak Telor. Panganan yang satu ini sudah menjadi simbol identitas Betawi. Tak heran, setiap kali gelaran Jakarta Fair Kemayoran (dulu bernama Pekan Raya Jakarta), telor yang dicampur dengan serundeng kelapa ini selalu muncul. Nah, Anda pasti pernah lihat orang jualan makanan khas Betawi yang aromanya wangi kelapa sangrai, telur yang dibakar, dan bumbu-bumbu yang langsung bikin lapar.

Makanan ini disinyalir lahir dari tangan-tangan orang Betawi yang pintar mengolah bahan sederhana jadi sesuatu yang enak. Bahan dasarnya cuma beras ketan, telur ayam atau bebek, ebi atau udang kering, dan kelapa parut yang disangrai. Tapi pas semua itu dicampur dan dimasak di atas bara arang, baunya sangat harum lalu dimasak hingga bagian bawahnya kering dan dibalik langsung di atas api. Cara memasak ini membuatnya crispy di bawah, lembut di atas. Apalagi ditambah taburan serundeng dan bawang goreng yang menambahkan cita rasa yang gurih di kerak telor tersebut. 

Di masa lalu, Kerak Telor bukanlah jajanan murah meriah seperti yang kita temui di festival budaya hari ini. Justru, ia pernah menjadi makanan mewah yang hanya disajikan di kalangan elite Betawi dan bangsawan Belanda. Alasannya sederhana bahan-bahannya mahal dan tidak umum dimiliki oleh orang kebanyakan. Telur bebek, kelapa sangrai, ebi (udang kering), dan beras ketan putih adalah bahan-bahan pilihan yang butuh biaya lebih dan tidak semua orang bisa menyediakannya setiap hari. Belum lagi, proses memasaknya memerlukan waktu dan ketelatenan telur dipanggang diatas arang, bukan digoreng biasa. 

Kini, Kerak Telor bisa dinikmati siapa saja. Anda pernah mencobanya?

Sumber: