Musik Betawi Stagnan, Butuh Ikon Baru Untuk Membangunkan

Minggu 26-07-2026,17:54 WIB
Reporter : Muhammad Sulhi Rawi

"Posisi musik tradisi saat ini rada nanggung. Maju enggak, mundur juga enggak," ucap Andi Suhandi, praktisi musik Betawi yang juga pengajar karawitan Betawi di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta. Dengan kata lain, perkembangannya stagnan.

Hal itu diungkapkan Andi saat menjadi pembicara dalam Diskusi dan Workshop Musik Betawi Sesi I, di hajatan "Betawi Jazz Jakarta Selatan 2026", Atrium The Bellezza, Permata Hijau, Jakarta Selatan. 

Diskusi yang dimoderatori Muhammad Sulhi Rawi ini juga menghadirkan praktisi dan pengamat musik Stanley Tulung. Hingga berita ini dibuat, Diskusi dan Workshp Sesi II serta Lomba Aransemen Lagu Betawi masih berlangsung.

Andi Suhandi menyebut minimnya ruang untuk berkreasi dan berekspresi sebagai salah satu masalah yang dihadapi musik Betawi saat ini. Dia mencontohkan minimnya penampilan di televisi sebagai salah satu indikasi. "Dulu kan zaman baba saya sering banget," kenangnya.

Lebih dari itu, "Sebagai pengajar, Andi merasa tertantang untuk menumbuhkan kecintaan anak muridnya pada musik tradisi Betawi, khususnya Gambang Kromong. Tapi memang enggak mudah ya," sebut praktisi musik yang sudah melanglang buana ke 20 negara ini.

Padahal peluang anak-anak Gen-Z dan Gen Alfa sangat besar dalam pelestarian musik tradisional. Karena mereka akrab dengan media sosial dan aplikasi musik seperti Spotify. Namun untuk sampai ke sana mesti tumbuh rasa cinta dulu.

Pasalnya, secara teknis, menurut Andi, musik tradisi Betawi ini sangat mungkin untuk dikolaborasikan. "Gambang Kromong, mau dibawa nge-jazz, oke aja," imbuhnya. 

Sementara itu, Stanley Tulung, pengamat musik yang rajin mendokumentasikan perkembangan musik Indonesia mulai era 50-an hingga saat ini, menilai Betawi kehilangan ikon sejak Benyamin Suaeb meninggal dunia. "Benyamin itu legenda, bukan hanya buat Betawi, tapi Indonesia. Para musisi yang saya kenal mengakui itu. Musik apa aja dia bisa. Pokoknya gila lah," seru Stanley, seperti kehabisan kata-kata.

Namun di sisi lain, Stanley mengakui, menciptakan ikon baru, apalagi legenda seperti Benyamin, tak semudah membalikkan telapak tangan. "Ada proses yang mesti dilewati. Benyamin juga enggak begitu saja jadi musisi serbabisa. Sebelum terkenal, dia juga berdarah-darah," cerita Stanley.

"Tapi saya yakin akan ada siklusnya nanti muncul lagi sosok seperti Benyamin. Syaratnya, jangan berhenti bergerak, dan jangan berhenti berproses," imbuh Stanley. Artinya, musik Betawi mesti terus berkreasi, berkolaborasi, beregenerasi, sembari mengupayakan ekosistem yang ideal.

Kedua narasumber berharap, hajatan "Betawi Jazz Jakarta Selatan 2026" dapat menjadi kawah candradimuka dan awal proses mengangkat kembali musik Betawi. Mulai dari menumbuhkan kecintaan di kalangan generasi muda, membangun ekosistem yang mendukung, menciptakan kolaborasi, hingga melahirkan kembali ikon sekelas Benyamin Suaeb.

"Yuk, kalau serius, pasti bisa," timpal Harry de Fretes, pentolan Lenong Rumpi yang hadir sebagai peserta diskusi. Nah, yuk ah. 

Kategori :