Lima Pemain Klub Batavia Berlaga di Piala Dunia

Lima Pemain Klub Batavia Berlaga di Piala Dunia

Hindia Belanda dicukur Hongaria di Piala Dunia 1938-Dagblad van Noordbrabant en Zeeland (4 Juni 1938)-

Era Indonesia masih bernama Hindia Belanda, sempat pula berlaga di Piala Dunia 1938 di Prancis. Nederlandsch-Indië Voetbal Unie (NIVU), begitu koran-koran lawas menyebut. Sejatinya NIVU semacam "PSSI" nya masa lalu. 

Merekalah yang menyeleksi para pemain Hindia Belanda untuk berlaga di Piala Dunia. Beruntung, di Hindia Belanda, popularitas sepak bola berkembang pesat. Berbagai kompetisi daerah dilakukan sehingga, pengurus NIVU bisa mencari berbagai talenta di sejumlah daerah seperti Surabaya, Semarang, dan tak terkecuali Batavia.  

Ambil contoh di Batavia. Klub tertua di wilayah ini tercatat nama-nama seperti  Rood-Wit, berdiri 1893, disusul B.S.C. (1896) dan Quick (1896). Bandingkan, di Belanda, tahun 1900 baru berdiri klub AFC Ajax. 

Kompetisi di Batavia pada masa itu sudah menggeliat. Denyutnya terasa di era tahun 1900. Muncul klub-klub yang berlaga di kompetisi lokal, seperti Oliveo/Olveo (1902), VIOS- Voorwaarts is Ons Streven (1902), Bataviasche Voetbal Club- B.V.C (1903), Hercules (1904), dan SVBB-  Sportvereeniging Binnenlandsch Bestuur (28 September 1912). 

Selain itu, ada pula UMS- Unity Makes Strenght, klub yang disokong komunitas Tionghoa Glodok. Kemudian, Jong Ambon (S.V.J.A.), representasi komunitas Maluku di Batavia.

Awalnya, klub-klub ini terbentuk mennurut kelompok profesi atau etnis tertentu. Perlahan klub-klub besar seperti SVBB justru sangat campur baur. Menurut kesaksian Eddy Meeng, mantan pemain SVBB yang diwawancarai sejarawan Humphrey de la Croix (Desember 2007), tim inti SVBB dihuni Indo-Eropa, Tionghoa, Belanda-Indis, dan totok. Bahkan tim ini dikenal punya banyak pemain keturunan Tionghoa di posisi kunci.

Sistem kompetisinya sendiri sudah tertata sejak awal abad ke-20. Pada 1914, digelar Stedenwedstrijden atau turnamen antarkota yang mempertemukan tim seleksi Batavia, Semarang, Soerabaja, dan Bandoeng.  Pada arsip Delpher menunjukkan sistem ini sudah berjalan matang bahkan pada 1914: pengundian pertandingan diberitakan lengkap, termasuk susunan pemain tim Batavia yang berangkat naik kereta dari Stasiun Kemayoran menuju Semarang untuk bertanding.

Negara Pertama di Asia

NIVU sudah berafiliasi dengan FIFA sejak 1924. Ketika Piala Dunia 1938 di Prancis kehilangan sejumlah peserta, Argentina mundur karena kecewa Prancis kembali ditunjuk sebagai tuan rumah, disusul mundurnya Spanyol, Amerika Serikat, dan Austria yang diserbu Jerman, FIFA membuka pintu bagi permohonan Hindia Belanda untuk ikut serta. Hindia Belanda pun tercatat sebagai negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia.

Proses seleksi pemain berjalan panjang dan berjenjang: turnamen antarperserikatan di tiga wilayah Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) di bawah pengawasan pelatih Johannes Mastenbroek. Lalu dilanjutkan turnamen segitiga antarwilayah untuk menyaring 25 kandidat, kemudian serangkaian pertandingan uji coba di Bandoeng, Soerabaja, dan Batavia hingga akhirnya mengerucut menjadi 17 pemain yang diberangkatkan ke Prancis.

Sebelum bertolak ke Eropa, tim NIVU sempat memainkan laga uji coba terakhir di Batavia, tepatnya di lapangan B.V.C., pada Minggu siang 24 April 1938, melawan tim "sisa" Batavia. Yaitu tim yang terdiri dari para pemain-pemain yang berlaga di klub-klub Batavia. 

Lima Pemain NIVU Dari Klub Batavia

Dagblad van Noordbrabant en Zeeland, 4 Juni 1938, menurunkan artikel mengenai susunan pemain Hindia Belanda yang akan turun di laga perdana Piala Dunia 1938. Mereka adalah:  Mo Heng; Hukom, Samuels; Hong Djien, Nawir (kapten), v.d. Burgh; Pattiwael, Taihitu, See Han, Soedarmadjie, Anwar.

Sumber: