Santapan Sedap saat Tonton Layar Tancap
--
Teknik slow cooking
Tahu Siksa, sejatinya bukan tergolong makanan ‘sadis’. Penganan ini terbuat dari tahu biasa -umumnya tahu kuning yang biasa disebut tahu bandung- digoreng menggunakan minyak sedikit di atas kompor berapi kecil. Minyak dalam wajan itupun dicampur dengan air sehingga seolah sembari digoreng, juga direbus.
Belum ada literatur resmi yang menyebutkan asal muasal nama Tahu Siksa ini. Tetapi bila melihat proses pematangan tahu dengan cara tersebut, boleh jadi nama itu muncul lantaran ungkapan masyarakat Betawi dalam berolah kata. Bukan hal baru bila masyarakat Betawi membuat istilah-istilah dengan metafora semacam ini.
Abdul Chaer, dalam bukunya “Kamus Ungkapan dan Peribahasa Betawi, cetakan pertama, yang diterbitkan oleh Masup Jakarta (2009) menyatakan, gabungan kata atau kata tidak digunakan sesuai dengan makna leksikal ataupun makna gramatikal, melainkan menurut makna lain yang masih mempunyai hubungan atau asosiasi dengan makna aslinya. Hubungan makna asli dengan makna asosianya dapat berupa kiasan, perbandingan, atau persamaan.
Tak ayal, cara memasak yang digoreng-rebus di waktu bersamaan dalam wajan plus api kecil ini, membuat tahu seolah-olah sedang mengalami penyiksaan yang tiada tara. Apalagi, apinya dibuat kecil, yang biasa disebut dengan cara memasak lamban (slow cooking). Teknik ini biasanya dilakukan pada bahan makanan yang bertekstur keras seperti daging. Menurut Gordon Ramsay, chef Inggris yang mendunia, teknik memasak lamban ini menjadikan makanan mengeluarkan seluruh rasa di dalamnya sekaligus membuatnya menjadi empuk.
Nah, bisa dibayangkan, tahu yang memiliki tekstur lembut dari sononya harus mengalami cara memasak seperti ini. Seperti penyiksaan tiada henti hingga kulit luarnya mengeras, namun di dalamnya tetap menyajikan tekstur yang lembut. ragam tekstur inilah yang membuat Tahu Siksa memiliki kekhasan tersendiri.
Bisa jadi, ini pula yang membuat Tahu Siksa pada masa itu dinikmati dengan seksama oleh para penonton layar tancap. Aroma kedelai yang menguar bersamaan dengan letupan cabai rawit, membuat siapa saja yang memakannya bisa menikmati rasa asli tahu ini. Apalagi Tahu Siksa tidak dibumbui dengan beraneka macam rempah, cukup ditabur garam untuk merangsang lidah bergoyang. Saban mencomot barang sebiji-dua, hati sudah gembira. Masa itu, Tahu Siksa disajikan dengan dibungkus daun pisang dan dilengkapi dengan cabai rawit.
Membayangkan bersila di tanah lapang, ditemani sebungkus Tahu Siksa, nikmat betul rasanya menyaksikan laga Pitung kontra Scout Hayne -perwira Kompeni yang diperankan A. Hamid Arief- di tengah malam di layar berukuran 3 x 9 m. Jangan lupa, minumannya disandingkan dengan bir petok khas tanah Betawi.
Sumber: